Senin, 06 Agustus 2012

3 PILAR PROFESIONALISME GURU



"KERJA CERDAS, KERJA KERAS, KERJA IKHLAS"
Slogan di atas pasti pernah kita dengar. Bahkan setidaknya di setiap sekolah slogan tersebut telah dipampang. Lalu apa yang ada dibalik makna slogan tersebut?

Slogan tersebut adalah implementasi dari sikap profeisonalisme guru terhadap tanggung jawabnya sebagai pendidik di sekolah. Namun untuk lebih jelasnya marilah kita jabarkan satu per satu makna slogan tersebut.

Kerja Cerdas. Guru dituntut untuk menjadi  pribadi yang tidak hanya pintar melainkan cerdas. Maka antara pintar dan cerdas akan memiliki perbedaan disini. Pintar maksudnya adalah seseorang memiliki pengetahuan baik umum maupun khusus namun masih sebatas teori dan pemahaman. Cerdas adalah aktualisasi dari kepintarab itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Cerdas bisa dikatakan kreatif dan inovatif. Maka pemilihan kata cerdas di slogan tersebut sangatlah tepat untuk menggambarkan kepribadian guru yang selalu diharapkan mampu menjadi self-motivator di setiap kesempatannya.
Kerja Keras. Kita semua pasti setuju jika keberhasilan seseorang didapatkan dari  sebuah kerja keras yang konsisten. Setelah cerdas, guru diharapkan untuk bekerja keras untuk meningkatkan kinerjanya. Kecerdasan yang dibarengi dengan sikap kerja keras akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan anak didik di masa yang akan datang.
Kerja Ikhlas. Tentunya setelah paket kecerdasan dan kerja keras dimiliki oleh seorang guru, sikap ikhlas pasti sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan itu semua.  Kecerdasan akan ilmu pengetahuan akan teraktualisasi dengan baik jika dilakukan dengan kerja keras yang disertai dengan keikhlasan untuk melakukan perubahan kea rah yang lebih baik.
Dewasa ini, keikhlasan menjadi semakin mengabur dan tidak memiliki neraca yang pasti untuk kita dapat mengukurnya. Secara tidak langsung hal ini telah menghapus ingatan kita bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Pamor ini tergerus seiring dengan kebutuhan hidup yang begitu real dan membutuhkan perhatian yang serius. Maka di kemudian hari kita jumpai adanya insentif-insentif ekstra, Gaji 13, Sertifikasi PNS atau yang lainnya. Keikhlasan untuk berbuat baik semakin hilang dengan idealisme dan  ke-realistisan hidup yang semakin nyata.
Maka secara tidak langsung, slogan di atas menjadi semacam sindiran bagi semua guru di Indonesia baik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun yang bukan. Tidak akan menjadi salah jika sifat realistis menjadikan kita semakin menghitung segalanya melalui materi. Namun menjadi tidak etis jika kita tidak mau mendidik generasi penerus hanya karena gaji tidak dibayar. Dan secara tidak langsung akan mencederai imej bahwa para pendidik sekarang menjadi materialistis.  Nah, bukankah kita ingin melihat anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang cerdas lagi ikhlas?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar